Tentang Fadhilah RAJAB


Hukum asal semua peribadatan itu adalah tidak boleh dilakukan (harom) kecuali kalau ada petunjuk dalilnya.

Maka semua bentuk peribadatan mahdhoh (sudah ditentukan syarat dan rukunnya), termasuk yang berkenaan dengan bulan rajab, tanpa dalil yang maqbul, tak boleh dilakukan..bahkan mengarah ke bid’ah.

Bila pada masalah Aqidah kita sepakat harus berdasar Al- Qur’an dan hadist yang mutawatir, maka pada masalah ibadah “mahdhoh” kita harus mendasarinya dengan dalil al- qur’an atau hadist- hadist yang bernilai Shohih saja, baik shohih lidzaatihi maupun shohih lighoirihi.

Adapun hadist Hasan atau dho’if ringan hanya boleh untuk urusan akhlaaqul Kariimah/ fadhoo’ilul a’mal, tak cukup untuk sandaran untuk melakukan Ibadah Mahdhoh. (Lihat Manhaj Dzawin Nadhor: Syekh Makhfudh At- Turmusi, As- Sunnah wamakaanatuha Fit Tsyrii’il Islaami.dll)

Nah..pada kasus amaliyah Ibadah Rojab, sebagian besar hadistnya adalah dho’if, bathil bahkan MAUDHU’ (PALSU), dan memakai hadist palsu secara sadar dan mengerti –>”Falyatabawwa’ maq’adahuu minan naar”.Na’uudzu billahi mindzaalik.

Menurut penulis yang dho’if ini hanya beberapa hal tentang Rojab yang bisa dipertanggung jawabkan karena dalil-dalilnya cukup kuat,yaitu:

1. Bukan Rojab adalah bulan mulia, sesuai firman Allah dalam surat At- Taubah:36

2. Pada bulan mulia tersebut dilarang melakukan peperangan, kecuali diserang lebih dulu…sesuai dalil diatas.

3. Puasa sunnah dibulan Rojab adalah dianjurkan SAMA seperti puasa sunnah dibulan mulia lainnya bukan khusus Rojab, berdasar hadist dari Mujibah Al- Bahiliyah, Rasulullah bersabda:

” Puasalah pada bulan-bulan harom”. H.R.Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan berdasar hadist:

Usamah berkata kepada Nabi: Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukanan puasa sunnah sebanyak yang anda lakukan dibulan Sya’ban.Rasul menjawab:” Bulan Sya’ban adalah bulan antara bulan Rojab dan Romadhon yang DILUPAKAN orang” H.R.Nasa’i dan Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, arti hadist ini pada bulan Rojab dan Sya.ban serta Romadhon Rasul memperbanyak puasa (ibadah), khususnya bulan puasa dengan puasa wajib.

Adapun hadist Dho’if selama tidak bertentangan dengan firman Allah dan tidak bertentangan dengan hadist-hadist lain yang sohih, maka hadist dho’if itu masih bisa diamalkan untuk motivasi ibadah (targhiib), atau membina akhlaqul karimah.

Sedangkan hadist maudhu’, harom kita mengamalkan atau menceriterakan dan menyebarkannya kepada khalayak ramai tanpa menyebutkan palsunya.

Syekh Mahfudh At- Turmusi, founding father pondok pesantren Tremas Pacitan dalam kitabnya “Manhaj Dzawin Nadhor Alaa syarhi Mandhumah Ilmi Atsar lis- Suyuthi pada halaman 87-88 menyatakan:

Hadist maudhu’ adalah seburuk- buruk khobar. Bagi orang yang tahu ia dilarang menyebut-nyebutnya..

maksudnya ia dilarang menyebarkannya dalam segala makna hadist maudhu’ tersebut, baik dalam bidang hukum, kissah, targhiib (untuk motivasi ibadah) atau lainnya, kecuali untuk sekedar contoh bahwa itu adalah hadist PALSU

Adapun contoh hadist- hadist yang dinilai dhoif/maudhu’ dalam masalah Rojab tersebut diantaranya adalah:

# “Keutamaan bulan Rajab atas bulan bulan lainnya seperti keutamaan Al- Qur’an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaan Ku atas para Nabi dan keutamaan bulan Romadhon seperti keutamaan Ku atas semua hamba”. => Maudhu’, Seperti pendapat Imam Ibnu Hajar Al- Asqolany: Al- Masmu’fii ma’rifatil haditsil maudhu’.

# “Barang siapa puasa satu hari dibulan Rojab dan sholat empat rokaat, pertama membaca ayat Kursy 100 kali, maka….dst.dst.==> Maudhu’. Al- Maudhuu’at Ibnul Jauzy. Menurut Imam Ibnu Hajar Hadistnya lemah :Taqriibut Tahziib I/663.no 4518.

” Barang siapa berpuasa tiga hari pada bulan rajab, dituliskan baginya pahala puasa tiga bulan…dst” .Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Syaikh dari jalan Ibnu Ulwan dari Abaan. Menurut Imam Suyuthi: Ibnu Ulwan pekerjaannya adalah memalsu hadist.

” Sesungguhnya di sorga ada sungai yang dinamakan ROJAB, airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu….dst” Hadist Bathil. Lihat Miizaanul I’tidaal

“Barang siapa puasa satu hari di bulan Rojab, pahalanya sama dengan berpuasa satu bulan”.=> Dho’if/Matruuk.  Lihat Adhu’afaa’ wal matruukiin.

# ” Bulan Rojab adalah bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Romadhon adalah bulan ummatku”.==> Maudhu’.Lihat Maudhuuatus Soghooni I/61.no 129.

“Barang siapa sholat maghrib dimalam pertama bulan Rojab, kemudian sholat sesudahnya 20 roka’at…dst.dst==> Maudhu. Lihat Al- Maudhuu’at Ibnul Jauzy.

Ayo marilah kita memperbanyak ibadah, ber- da’wah, baca qur’an, puasa, shodaqoh, qiyaamullail,dll di bulan ROJAB, namun ibadah kita tidak didasari hadist- hadist maudhu’ tersebut diatas, tapi atas dasar Surat Taubah ayat 36 dan hadist sohih yang menyatakan bahwa Rasululloh memperbanyak ibadah khususnya di bulan harom seperti BULAN ROJAB, dll. Wallohu a’lam.

by: Ust ibn khasbullah

Iklan
Categories: Islam | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: